Tidak semua ucapan orang tua dianggap sebagai kalimat pujian bagi anak. Tanpa disadari, ucapan orang tua ternyata bisa meninggalkan luka yang membekas pada anak.
Kalimat yang dianggap sepele bagi orang tua, bisa jadi terus diingat oleh anak hingga dewasa. Salah satu kalimat yang sebaiknya tidak dikatakan adalah bertanya, ‘Ada apa denganmu?’.
Menurut terapis pernikahan dan keluarga, Karyl McBride, Ph.D., LMFT, bertanya ‘Ada apa denganmu?’ kepada anak dengan nada frustrasi dapat menyiratkan bahwa anak secara pribadi adalah masalah yang kemudian dianggap sebagai rasa malu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alih-alih bertanya kepada anak, ‘Ada apa denganmu?’, lebih baik Bunda meluangkan waktu untuk mendiskusikan perasaan Si Kecil, dan menyampaikan informasi yang mereka butuhkan. Pasalnya, rasa malu yang timbul akibat pertanyaan itu bisa berlangsung lama dan sulit diatasi.
“Ketika orang dewasa yang dipercaya menyatakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan anak, mereka akan menginternalisasikan hal ini dan mempercayainya,” ungkap McBride.
“Mereka akan bertanya pada diri sendiri apa yang salah dengan mereka dan mereka tidak akan dapat menemukan jawabannya. Mereka mungkin mengandalkan pengalaman dan pengetahuan hidup yang terbatas, dan kemungkinan besar akan menemukan sesuatu yang salah, dan hal itu dapat memiliki dampak yang bertahan lama.”
Kalimat pengganti ‘Ada apa denganmu?’
Saat bicara dengan anak, hindari untuk menciptakan rasa malu dengan mengatakan ‘Ada apa denganmu?’. Bunda memang bisa bicara secara langsung tentang perilaku yang membuat kita khawatir, tetapi tetap beri tahu anak bahwa mereka istimewa dan kita menyayangi mereka.
Jangan menggeneralisasikan perilaku yang tidak disukai dari anak dan menciptakan rasa malu. Rasa malu sulit untuk ditanggung oleh anak-anak maupun orang dewasa serta sulit untuk diatasi,” kata McBride.
Nah, berikut beberapa kalimat pengganti dari pertanyaan ‘Ada apa denganmu’ saat Bunda bicara dengan anak:
1. Saat anak tak sengaja berbuat kesalahan
Misalnya, seorang anak terburu-buru dan tidak memperhatikan, lalu tanpa sengaja memecahkan sesuatu. Bunda yang merasa jengkel lalu mengatakan ‘Ada apa denganmu?’
Sebaiknya hindari kalimat tersebut. Bersikaplah langsung tetapi juga memberi arahan, seperti “Sayang, mari kita pelan-pelan, tidak apa-apa, kita semua sedang terburu-buru di sini dan Ibu tahu kamu tidak bermaksud melakukan itu. Lain kali, beri tahu Ibu atau Ayah bahwa kamu merasa terburu-buru, stres, atau kesal dan kita bisa membicarakannya. Mari kita cari tahu apa yang harus dilakukan”.
2. Saat anak tantrum di depan umum
Seorang anak yang tantrum atau mengamuk di tempat umum biasanya sering membuat orang tua merasa jengkel. Bila hal itu terjadi, jangan biarkan kalimat “Ada apa denganmu?” keluar begitu saja.
Bunda cukup membawa anak itu ke tempat yang tenang, mencari tahu apa yang mengganggunya, dan mendiskusikan perasaannya. Ini tidak berarti mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi mereka akan merasa didengar, dan diperhatikan. Cara tersebut juga akan meredakan amarah Si Kecil.
3. Saat anak remaja melakukan kesalahan yang serius
Anak remaja tanpa disadari sering melakukan kesalahan serius, seperti mengirim pesan tidak sopan atau menulis sesuatu yang tidak pantas di media sosial. Saat itu terjadi, orang tua tidak mengatakan, ‘Ada apa denganmu?’.
Cobalah untuk mengajak anak diskusi dan gunakan nada bicara lembut agar remaja merasa aman dan tidak dihakimi. Bunda bisa mengganti kalimat ‘Ada apa denganmu?’ menjadi ‘Apa yang sedang kamu pikirkan belakangan ini?’ atau ‘Apa yang terasa sulit bagimu?’.
Catat ya, pertanyaan ‘Ada apa denganmu?’, ketika digunakan dengan nada kesal, bisa menjadi ungkapan yang mempermalukan dan merendahkan, dan dapat memiliki efek jangka panjang. Penting untuk mengingat bagaimana kita berbicara kepada anak-anak, karena itu adalah bagian dari apa yang membentuk cara anak-anak memandang diri mereka sendiri.
Demikian kalimat pengganti ‘Ada apa denganmu?’ untuk diucapkan ke anak. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.